Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kristen’

Banyak gedung gereja yang kini tersebar di Batam. Namun, di masa awal, umat Kristiani beribadah di gudang-gudang perusahaan.

YERMIA RIEZKY SANTIAGO

Batam awal dekade 1970-an adalah sebuah pulau liar. Hampir seluruh wilayahnya ditutupi hutan lebat. Penduduknya sebagian besar nelayan. Tak banyak daerah yang ramai di Batam dan sekitarnya. Pulau Sambu, Belakangpadang, Nongsa, dan Batuampar, jadi pusat-pusat aktivitas masyarakat ketika itu.

Pada tahun itu, sejumlah pekerja pekerja yang datang di Batam masih tinggal di tenda-tenda perusahaan yang kerap didatangi ular dan kelabang. Sesekali, mamalia hutan bertubuh besar kerap menghampiri. Mereka kebanyakan bekerja di pangkalan Pertamina Pulau Sambu.

Di antara pekerja pendatang, terselip sejumlah umat Kristiani. Salah satunya Sukamto, pegawai Pertamina di Pulau Sambu. Ialah yang merintis berdirinya salah satu gereja tertua di Batam, Gereja Protestan Indonesia bagian Barta (GPIB) Immanuel yang saat ini berada di Nagoya.

Bakal jemaat gereja tersebut muncul ketika Sukamto menetap di Batam pada tahun 1970. Sukamto yang aktif di GPIB Pulau Sambu sejak 1969, menjadikan rumahnya sebagi tempat perkumpulan orang-orang Kristen. Hanya sedikit umat Kristen Protestan yang saat itu bermukim di Pulau Batam. Dalam catatan buku ‘Lintasan Sejarah GPIB Immanuel Batam’ tercatat jumlah umat yang hadir dalam pertemuan setiap hari Minggu tak lebih dari 20 orang. Beberapa diantaranya adalah Rony Rurut (pegawai Pertamina), Sitinjak (sopir di Pertamina), Sitorus (pegawai shipping Pertamina), Sukarno, Kartomo Projodimono dan Samosir.

Selama dua tahun, ibadah berlangsung di kediaman Sukamto seriap Minggu malam. Di pagi hari, ibadah Sekolah Minggu untuk anak-anak dilangsungkan.

Umat yang beribadah bertambah dengan masuknya PT McDermott Indonesia di Batam, pada 1972. Karyawan Kristen McDermott kemudian turut gabung dalam ibadah itu.

“Karyawan sebelumnya memiliki persekutuan sendiri. Tapi setelah mendengar ada ibadah hari Minggu di rumah Pak Sukamto, mereka begabung ke sana,” kata Sekretaris Majelis Jemaat GPIB Immanuel 2012-2015, Orwy Watuseke, Senin (24/12) di Nagoya.

Dengan jumlah umat yang bertambah, jemaat di rumah Sukamto membutuhkan gedung gereja. Tak lama, ketika PT McDermott meresmikan SD Budi Utama, Sukamto mendekati pimpinan PT McDermott Asia Pasifik dan memohon agar bekas gudang National Camp di Jodoh dapat digunakan sebagai gereja.

Permohonan itu dikabulkan pada tahun 1972. Tak hanya gedung, perusahaan juga turut membantu bangku, meja, mimbar, dan cat.

Perkembangan jumlah umat dan fasilitas kemudian mendorong GPIB Pulau Sambu menjadikan jemaat Protestan di Batuampar itu sebagai salah satu pos pelayanannya. Pendeta EE Manuputty kemudian menjadi ketua jemaat di pos ini. Saat itu, keberadaan Manuputty adalah satu perkebangan bagi jemaat karena sebelumnya mereka hanya sebulan sekali mendapat pelayanan ileh Pendeta Gurning dari GPIB Tanjungpinang. Tak lama setelah Manuputty bertugas di Batuampar, jemaat gereja tersebut sepakat memberikan nama GPIB Immanuel sebagai persekutuan mereka.

Selama delapan tahun jemaat GPIB Immanuel beribadah di National Camp, Batuampar. Pada tahun 1979 gedung tersebut terkena proyek dan harus digusur. Agar bisa melanjutkan ibadah, jemaat kemudian mengajukan perminaan lahan ke Otorita Batam (OB). Melalui Kepala Teknik Otorita ketika itu, T.Sitorus, OB memberikan lahan untuk pendirian gereja baru seluas 3.970 meter persegi di Nagoya.

“Sebenarnya sudah ada satu gedung yang digunakan oleh jemaat GPIB Zebulon di Tiban, Sekupang. Namun karena jumlah jemaat Batuampar yang besar dan transportasi yang belum lancar otorita menyediakan lahan di lokasi GPIB Immanuel saat ini,” kata Orwy. Seteah gedung gereja di lahan baru berdiri, umat di Batuampar kemudian pindah pada tahun 1980 di lokasi gereja saat ini.

Dalam perkembangannya, kumpulan-kumpulan jemaat bertumbuh di jemaat GPIB Immanuel. Misalnya di tahun 1975, ketika masyarakat dari suku Batak makin banyak di dalam jemaat, mereka kemudian mendirikan Paguyuban HKBP. Dari Paguyuban itu kemudian menjadi bakal umat gereja HKBP Lubukbaja saat ini.

Orwy mengungkapkan, bakal jemaat yang tumbuh tak hanya HKBP. “Ada juga jemaat GKI (Gereja Kristen Indonesia) Sukajadi, BNKP (gereja Nias) yang bakal jemaatnya bermula dari GPIB Immanuel,” kata dia. Beberapa alasannya tumbuhnya komunitas itu diantaranya kesamaan asal maupun jarak dengan lokasi gereja yang jauh.

“Mereka perlu beribadah di lokasi yang dekat dengan kediaman mereka,” kata Orwy. Menjadi mandiri tidak berarti hubungan gereja-gereja tersebut lepas dengan GPIB. “dalam banyak hal terkait ibadah atau perkembangan jemaat, kami masih sering mengerjakannya bersama,” tambah dia.

HKBP Lubukbaja sendiri kini berkembang menjadi gereja distrik di Kepulauan Riau. Secara struktural, Distrik Kepri membawahi delapan ressort di Batam, empat Ressort Kepri di luar Batam, dan satu Ressort di Singapura. Usai menjadi jemaat mandiri di tahun 1975, jemaat HKBP beribadah di rumah-rumah anggota.

“Setelah mandiri dan tak lagi bersama GPIB Immanuel kami beribadah sambil menunggu pembangunan gedung gereja di Blok II,” kata Pendeta HKBP Lubukbaja, JR Sitorus, Senin (24/12).

Barulah pada 1978, di Bukit Baloi gedung gereja HKBP Lubukbaja berdiri. “Saat pertama kali digunakan ibadah, tercatat jumlah jemaat kami 150 orang,” kata Sitorus.

Kini, meski HKBP terkenal sebagai ‘gereja Batak’, banyak jemaat HKBP yang bukan berasal dari Tanah Batak. “Sebenarnya HKBP itu kepanjangan dari Heine, Klammer, Betz P-van Asselt, misionaris di Sumatera Utara. Tapi dalam perkembangannya, HKBP kemudian menjadi kepanjangan Huria Kristen Batak Protestan,” ujar Sitorus.

Sejumlah warga asal Jawa dan Tionghoa kerap datang beribadah hari Minggu khususnya pada jam 07.30 WIB dan 18.00 WIB. Untuk ibadah jam 10.00 WIB, ibadah dilayani dalam bahasa Batak. Beberapa orang non-Batak kadang ikut dalam ibadah bahasa Batak itu. “Beberapa diantara mereka (jemaat non-Batak) malah lebih lancar berbahasa Batak ketimbang orang Batak,” ujar Sitorus sambil tertawa.

Dibantu Haji

Selain dua gereja itu, satu lagi gereja tertua di Batam adalah Gereja Katolik Santo Petrus Lubukbaja. Bahkan bakal umatnya mulai muncul pada tahun 1959. Perintisnya adalah Theodorus Salaka, warga asal Gunung Api Flores yang tiba di Batam tahun itu. Ia datang bersama Moses Musa dan Marko Kopong. Setahun setelahnya menyusu; Petrus Pitu Atawolo, Bernardus Lera, dan Alo.

Dalam buku kenangan Peresmian dan Pentahbisan Gereja Katolik Santo Petrus tertulis, komunitas perantau asal Flores itu memulai ibadah dari doa rosario di rumah Theodorus Salaka. Meski rajin melakukan doa rosario bersama komunitasnya, hati Theodorus terusik agar mereka memiliki satu tempat khusus untuk meribadah di hari Minggu. Ia pun menggerakkan komunitas perantau Flores untuk membangun sebuah kapel.

Kapel itu kemudian berdiri di Batuampar pada 1961. Lokasinya saat ini menjadi kawasan PT McDermott. Kondisi bangunan itu sangat sederhana karena tersusun dari kayu bulat, atap ilalang, dan dinding dari anyaman bambu. Kursi-kursinya saat itu terbuat dari kayu bulat. Mereka menamakan kapel itu Santa Maria sebagai bentuk terima kasih mereka pada Bunda Maria yang dipercaya melindungi perantau Flores, selama satu bulan mengarungi lautan, menuju Batam. “Meski kapel itu sangat sederhana, kapel tersebut menjadi titik penting perkembangan gereja Katolik di pulau Batam,” seperti tertulis buku itu.

Selama delapan tahun aktivitas misa umat Katolik berlangsung di kapel tersebut. Sampai ketika PT Enggram membangun usahanya di Batuampar. Perluasan perusahaan tersebut merambah lokasi Kapel St.Maria. Kapel tersebut di bongkar. Bersama dengan itu, ibadah warga kemudian dilakukan dari rumah ke rumah.

Kondisi itu membuat salah satu pejabat di PT Enggram, Yosef Wuisan mendekati personalia perusahaan, Dupon. Dupon kemudian memberikan sebuah gudang perusahaan. Namun bersamaan dengan rencana itu, muncul proyek baru yang dikerjakan PT Dwi Putra yang ingin membangun jalur Batuampar-Jodoh-Nagoya. Perusahaan tersebut mengusulkan agar umat Katolik membangun gereja di Tanjunguma. Umat menolak karena umat yang sebagian tinggal di Jodoh kesulitan menuju Tanjunguma karena tak ada jembatan penghubung.

Umat Katolik kemudian menemukan titik terang saat seorang Muslim, Haji R Muhammad mengizinkan lahan kebunnya dibangun gereja. Yang menarik, lokasinya saat itu bersebelahan dengan Masjid Raya Jodoh. Hal itu menunjukkan toleransi saling antar umat beragama telah muncul saat itu. Umat Katolik Batam lalu membangun Kapel St.Maria di tanah Muhammad pada 1974. Dalam pembangunannya, umat menyumbangkan uang, tenaga, dan bahan bangunan. Bahan bangunan berupa kayu bekas kapel sebelumnya tak bisa digunakan lagi karena sudah lapuk.

Tak sampai sepuluh tahun, lokasi gereja pun kembali berpindah. Kali ini yang menjadi alasan adalah kepurusan Otorita Batam mengembangkan kawasan jodoh sebagai kawasan niaga dan perhotelan. Warga yang tinggal di Jodoh harus pindah ke Seraya, Pelita, Baloi Indah, Baloi Centre, Blok II sampai Blok IV. Termasuk di dalamnya Kapel St.Maria yang harus dipindahkan ke Blok II. Setelah berjuang meratakan tanah dan memecahkan bukit, umat Katolik pun mendirikan gedung gereja yang dinamakan Santo Petrus.

Dalam perkembangannya, Gereja Santo Petrus yang awalnya berkapasitas 300 orang, pada tahun 2005 dipugar dan diresmikan pada 2009. Kini, selain melakukan kegiatan ibadah, umat Gereja St. Petrus juga melakukan aktivitas sosial lain yang menyentuh masyarakat.

“Gereja memiliki pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu melalui pengobatan gratis. Sering juga kami membagi bahan-bahan pokok bagi masyarakat miskin,” kata pastor Gereja St.Petrus, Antonius Sarto Mitakda SVD.

Selain itu mereka gereja melakukan bantuan pendidikan kepada umat Katolik yang di sekolahnya tidak ada pelajaran Agama Katolik. “Kami sering membantu pengajaran Agama Katolik di sekolah-sekolah negeri,” kata Romo Antonius.

Aktivitas sosial seperti pengobatan juga dilakukan oleh gereja lain seperti GPIB Immanuel dan HKBP Lubukbaja. “Selain pelayanan kesehatan, GPIB pusat di Jakarta juga mengelola Yayasan Pendidikan Kristen Immanuel Batam. Yayasan itu membawahi TK sampai SMA,” kata Ketua IV Majelis Jemaat Adel Peranginangin.

Pelayanan kepada masyarakat ini yang menurut Romo Antonius sebagai makna Natal bagi umat Kristiani. Seperti kepercayaan umat Kristiani, Tuhan yang turun ke dunia yang memberikan dirinya bagi keselamatan manusia, umat Kristiani diajarkan untuk hidup memberikan dirinya badi sesama.

“Umat Kristiani harus hidup dalam damai, solider, dan memperhatikan yang kecil. Hidup dalam kasih dan menjauhi kekerasan. Balaslah perlakuan yang tidak baik dengan kebaikan,” pesan Romo Antonius. ***

Tulisan ini pernah terbit di Batam Pos, 25 Desember 2012